Belajar Mempercayai Diri Sendiri Setelah Kepercayaan Dipatahkan
(Cerita Renungan Bibi Islami)
Ada masa ketika seseorang memilih diam, bukan karena tak punya cerita, tetapi karena lelah menjelaskan.
Bukan pula karena ingin pergi dari dunia, melainkan sedang mencari cara paling jujur untuk kembali kepada diri sendiri.
Menyendiri, pada fase tertentu, bukanlah pelarian.
Ia bisa menjadi ruang sunyi tempat hati berhenti berlari, napas diperlambat, dan luka dibiarkan bernapas tanpa ditanya terlalu banyak.
Tulisan ini tidak lahir dari keinginan untuk dimengerti.
Ia hanya ingin duduk sebentar, bersama siapa pun yang pernah merasa perlu menjauh bukan untuk menghilang, tetapi agar tidak semakin hilang dari dirinya sendiri.
Ada luka yang datang tidak membuat kita marah,
tetapi membuat kita ragu bahkan pada diri sendiri.
Bukan lagi bertanya, “Mengapa dia melakukan itu?”
melainkan diam-diam bertanya,
“Mengapa aku bisa mempercayai sepenuh itu?”
Luka semacam ini tidak selalu terlihat.
Ia tidak selalu hadir sebagai air mata.
Kadang ia datang sebagai kehati-hatian berlebihan,
sebagai keinginan untuk menjauh,
atau sebagai rasa takut membuka hati bahkan pada diri sendiri.
Aku menulis ini bukan karena aku sudah sembuh.
Aku menulis karena aku sedang belajar satu hal penting:
bahwa setelah kepercayaan dipatahkan,
yang paling perlu dipulihkan bukan hubungan dengan orang lain,
tetapi hubungan dengan diri sendiri.
Ketika Kepercayaan Runtuh, yang Ikut Retak Adalah Diri Kita
Kepercayaan tidak pernah berdiri sendiri.
Saat kita percaya pada seseorang,
sebenarnya kita juga sedang percaya pada penilaian, intuisi, dan keberanian kita sendiri.
Maka ketika kepercayaan itu runtuh,
yang terluka bukan hanya perasaan dan ingatan
tetapi juga keyakinan bahwa “aku bisa menjaga diriku”.
Di fase ini, banyak dari kita mulai:
-
menyalahkan diri sendiri karena pernah tulus
-
meragukan setiap keputusan yang diambil
-
merasa bodoh karena tidak melihat tanda-tanda sejak awal
Padahal, ketulusan tidak pernah salah alamat.
Ia hanya kadang disambut oleh orang yang belum siap menjaganya.
Mempercayai Diri Sendiri Tidak Sama dengan Menutup Hati
Ada perbedaan tipis namun penting antara:
-
menjaga diri
-
dan mengurung diri
Belajar mempercayai diri sendiri bukan berarti:
-
menjadi curiga pada semua orang
-
mengeras agar tidak terluka
-
atau menutup pintu rapat-rapat pada dunia
Justru sebaliknya.
Ia berarti:
-
berani mendengar intuisi yang dulu diabaikan
-
berani berkata “cukup” tanpa rasa bersalah
-
berani memilih jarak ketika hati mulai sesak
Mempercayai diri sendiri adalah keberanian untuk berkata:
“Aku tahu apa yang aku rasakan, dan aku berhak menjaganya.”
Luka Ini Tidak Memintamu Cepat Bangkit
Tidak semua luka ingin segera diberi solusi.
Sebagian hanya ingin didengarkan tanpa disuruh kuat.
Jika hari-hari ini kamu:
-
lebih sering diam
-
memilih sendiri
-
belum ingin membuka cerita
itu tidak apa-apa.
Belajar mempercayai diri sendiri kadang dimulai dari hal yang sangat sederhana:
menghormati kebutuhan hati sendiri hari ini.
Bukan memaksa sembuh.
Bukan memaksa percaya lagi.
Hanya jujur pada apa yang sedang kamu mampu.
Aku Belajar Pelan, Dengan Cara yang Tidak Sempurna
Aku belajar bahwa mempercayai diri sendiri tidak datang tiba-tiba.
Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil:
-
menolak sesuatu yang terasa berat
-
berhenti menjelaskan diri pada yang tidak ingin mengerti
-
memilih diam daripada membela diri yang lelah
Aku belajar bahwa Allah tidak pernah mencela hamba-Nya yang berhati-hati setelah terluka.
Yang Dia minta hanyalah: jangan meninggalkan diri sendiri dalam prosesnya.
Jika Kamu Pernah Patah Sepertiku
Barangkali kamu juga sedang berada di fase ini.
Masih ingin percaya, tapi takut.
Masih ingin dekat, tapi ragu.
Jika iya, izinkan aku mengatakan ini dengan lembut:
Kamu tidak harus percaya lagi hari ini.
Kamu hanya perlu percaya bahwa dirimu layak dijaga.
Dan itu sudah merupakan bentuk keberanian yang besar.
Aku menulis ini sebagai bagian dari Cerita Renungan
sebagai pengingat bahwa pulih tidak selalu berarti kembali seperti dulu.
Kadang pulih berarti menjadi versi baru yang lebih sadar, lebih beradab pada diri sendiri, dan lebih jujur pada batasnya.
Kita tidak rusak.
Kita hanya sedang belajar cara baru untuk percaya
dimulai dari diri sendiri.
Mungkin pada akhirnya, menyembuhkan diri bukan soal kembali seperti dulu.
Melainkan belajar menerima bahwa diri yang sekarang telah melewati banyak hal dan itu tidak membuatnya kurang berharga.
Jika hari ini masih terasa berat, tidak apa-apa berjalan lebih pelan.
Jika memilih menyendiri sejenak, pastikan ia menjadi ruang aman, bukan hukuman bagi diri sendiri.
Tidak semua yang patah harus segera disatukan.
Sebagian hanya perlu diletakkan dengan lembut, agar suatu hari nanti, kita bisa menatapnya tanpa gemetar.
Dan bila belum siap percaya sepenuhnya kepada orang lain, kepada keadaan, bahkan kepada diri sendiri, ingatlah satu hal ini:
Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang sedang belajar pulang, meski langkahnya tertatih dan sunyi.
Komentar
Posting Komentar