MENEMBUS LANGIT DALAM SEWAKTU
Puisi Islami tentang Doa, Iman, dan Keyakinan
Puisi ini kutulis di tengah hening yang memanjangkan doa. Ada waktu-waktu ketika aku tidak berhenti berharap, meski jawaban belum juga datang. Dari titik itulah bait-bait ini lahir. Di saat doa terasa menggantung di langit, dan waktu seolah berjalan tanpa jawaban, puisi ini lahir sebagai pengingat bahwa iman tidak pernah sia-sia. "Menembus Langit dalam Sewaktu" adalah renungan tentang doa, keyakinan, dan keberanian untuk terus berharap meski belum terkabul.
Menembus Langit dalam Sewaktu
Aku masih termenung,
di titik persinggahan waktu yang beku,
meski masa depan tergambar kelabu,
imanlah yang harus tetap teguh selalu.
Aku masih membisu,
di poros sumbu jiwa yang berdebu,
harap dan cemas saling beradu,
di bawah bentangan langit biru.
Aku senantiasa memohon sesuatu,
dengan lisan yang tak pernah bisu,
dan hati yang sepenuhnya bertumpu,
pada Penguasa Langit Ketujuh.
Kuramaikan bumi dengan seruanku,
atas pinta yang lirih namun bersungguh,
berbisik lembut, bergetar haru,
kepada Dzat Yang Maha Mengetahui segalanya.
Aku mulai malu,
pada prasangka yang pernah keliru,
mengira doa yang belum terkabul
seakan ibadahku sia-sia berlalu.
Padahal cinta Tuhan selalu meluluhkan,
kurawat dalam hening doa-doaku,
tak ingin berhenti meski ragu menyusup kalbu,
sebab keyakinan harus senantiasa tumbuh.
Jika iman kau jadikan penentu,
pastilah pinta akan menemui waktu,
di setiap kekhusyukan sujud yang jujur,
maka jangan berhenti menembus langit,
meski waktu terasa telah berlalu.
Puisi ini menjadi pengingat bahwa doa tidak pernah sia-sia. Jika hari ini jawabannya belum hadir, aku memilih untuk tidak berhenti berserah. Sebab iman selalu menemukan jalannya sendiri. Puisi ini juga bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jejak perjalanan batin seorang hamba yang belajar memahami bahwa doa tidak selalu dijawab dengan segera, namun selalu didengar dengan sempurna. Ceritra Menembus Langit dalam Sewaktu adalah pengingat halus bahwa iman tidak dibangun dari terkabulnya pinta, melainkan dari kesetiaan hati yang terus mengetuk langit meski waktu terasa panjang dan jawaban belum tampak. Dalam hening, dalam ragu, dan dalam sujud yang berulang, kita diajak untuk tidak berhenti berharap, sebab setiap doa yang terucap telah sampai pada Pemilik langit dan bumi. Dan ketika waktu belum berpihak, barangkali bukan doa kita yang kurang kuat, melainkan jiwa kita yang sedang disiapkan agar kelak mampu menerima jawaban-Nya dengan lapang dan penuh syukur.
Komentar
Posting Komentar