Aku yang Pulang Bersama Himmah Perjalanan
(Menulis & Bertumbuh)
Aku berangkat bukan sebagai seseorang yang utuh.
Ada fase ujian yang masih berjalan,
ada letih yang belum sempat kusebutkan namanya,
dan ada doa-doa yang kugenggam diam-diam tanpa tahu
apakah ia sedang diangkat, ditunda, atau diarahkan ke bentuk lain.
Maka perjalanan ini, bagiku, bukan tentang pergi.
Ia adalah jalan pulang.
Pertanyaan tentang ke mana Bibi Islami akan kubawa setelah umrah
tidak datang sebelum langkah ini dimulai.
Ia justru hadir pelan saat aku kembali
saat koper telah dibuka,
dan hati mulai menyusun ulang dirinya sendiri.
Tanah suci tidak pernah sekadar menjadi tujuan.
Ia bukan label kesalehan,
bukan pula bukti bahwa seseorang telah “sampai”.
Ia adalah tanah tempat agama ini dilahirkan
bukan hanya sebagai sejarah,
tetapi sebagai panggilan untuk terus kembali
kembali kepada iman yang jujur,
kepada hati yang mau tunduk dan diperbaiki.
Di sana, aku tidak menemukan jawaban yang rapi.
Aku justru menemukan diriku yang lebih berani mengakui
bahwa tidak semua ujian harus segera selesai.
Bahwa ada fase-fase hidup
yang memang harus dijalani sambil berjalan tertatih,
namun tetap menghadap ke arah yang benar.
Setiap thawaf terasa seperti pengingat sunyi:
bahwa hidup ini tidak perlu selalu tergesa.
Ia hanya perlu setia berputar
mengelilingi pusat yang sama
Bukan ego, bukan luka, bukan harapan manusia.
Setiap sa’i mengajarkanku tentang lelah yang tidak sia-sia.
Tentang ikhtiar yang mungkin berulang,
tentang doa yang belum berbuah,
namun tetap bernilai karena ia dijalani dengan percaya.
Aku pulang tidak membawa kemenangan yang bisa dipamerkan.
Aku pulang membawa himmah
tekad yang lahir dari kelelahan yang disadari,
bukan dari ambisi yang dipaksakan.
Aku pulang dengan keinginan sederhana:
menulis bukan lagi untuk menutup kekosongan,
tetapi untuk menjaga diri agar tetap waras dan terarah
di tengah ujian yang masih berjalan.
Jika kelak Bibi Islami berjalan lebih tenang,
itu karena aku tidak ingin lagi mengejar pertumbuhan
dengan hati yang tergesa.
Dan jika ia bertumbuh dan berdampak luas,
semoga itu terjadi karena iman memang ingin dibagikan
dengan adab,
bukan dengan suara yang paling keras.
Tanah suci mengajarkanku satu hal yang sangat dalam:
agama ini tidak tumbuh melalui kegaduhan,
ia tumbuh melalui ketaatan yang sunyi
dan kesetiaan untuk terus kembali.
Maka aku menulis lagi hari ini.
Bukan karena ujian telah usai,
tetapi karena aku memilih pulang
kepada niat,
kepada Allah,
dan kepada diriku yang sedang belajar bertahan.
Dan jika Allah mengizinkan langkah ini berlanjut hingga 2026 dan seterusnya,
aku ingin melangkah bukan dengan gegap gempita,
melainkan dengan iman yang lebih matang.
Bukan membawa beban untuk dibuktikan,
tetapi membawa hati yang siap diarahkan.
Karena setelah fase ujian ini,
aku tidak ingin sekadar melanjutkan hidup
aku ingin menjalaninya dengan sadar,
bersama Allah, sepenuh pulang.
Pelan.
Sadar.
Dan terus bertumbuh.
Komentar
Posting Komentar