Tentang doa yang diam-diam dijaga, dan hidayah yang datang tanpa diminta
Sebuah kisah tentang doa kakak, harapan adik, dan cara Allah menjawab perlahan
Malam itu hujan gerimis mengguyur kotaku sejak sore.
Usai salat Maghrib dan dzikir yang panjang, aku duduk di kursi empuk, diam,
tenang, dan merasa cukup. Hingga ponselku berdering.
Yang menelepon adalah adikku.
Adik bungsu yang dulu selalu kujaga, yang dulu kulihat sebagai anak kecil, kini
telah tumbuh menjadi lelaki dewasa dengan segudang tanggung jawab pekerjaannya.
Dengan nada agak tergesa, ia berkata bahwa kunci motornya
hilang saat jogging di kampus. Aku diminta membawakan kunci cadangan. Malam itu
juga.
Aku menyiapkan diri, lalu mengingatkannya seperti biasa,
dengan nada pelan agar tetap menjaga salat lima waktu, sepadat apa pun
kesibukan yang ia jalani. Ia hanya mengangguk, lalu bergegas ke masjid sebelum
kami berangkat.
Kami menyusuri kampus yang gelap dan sunyi, berboncengan di
bawah gerimis yang belum reda. Lampu-lampu jalan menyala redup, seolah ikut
menjaga rahasia malam.
Di tengah perjalanan, ia tiba-tiba berbicara lirih, hampir
tenggelam oleh suara mesin motor.
“Kak… kalau nanti berangkat umrah sama Mama, aku mau titip doa, ya.”
Aku tersenyum kecil, lalu bertanya seperti dugaan kebanyakan
orang.
Tentang rezekiyang diperlancar ?
Tentang jodoh yang ingin dipertemukan?
Atau tentang Kesehatan yang sellau dijaga?
Namun jawabannya membuat hatiku seketika luluh.
“Aku cuma ingin Kakak minta hidayah untukku.”
Aku terdiam.
Tangan ini mencengkeram lebih erat, dadaku sesak oleh rasa syukur yang mendadak
penuh. Andai mungkin, ingin rasanya bersujud saat itu juga.
“Hanya itu?” tanyaku pelan.
“Kenapa bukan yang lain?”
Ia menjawab dengan suara yang tenang, seolah sudah lama
disimpannya.
“Kalau hidayah sudah aku raih, yang lain akan jauh lebih mudah.”
Aku menjawab “insyaAllah”
MasyaAllah.
Maha Suci Allah atas segala firman-Nya.
Tetiba, aku teringat enam tahun lalu, bahkan lebih.
Tak ada satu pun doa yang kusebutkan untuk adikku selain hidayah. Saat ia
merantau di ujung negeri, dengan jam kerja yang padat, dan lingkungan yang
nyaris tak mendukung agamanya, doaku hanya satu. Berulang. Tanpa syarat.
Dan malam itu, aku baru benar-benar menyadari:
doa itu sedang dikabulkan.
Perlahan.
Dengan cara yang tak pernah kusangka.
Allah tidak pernah tergesa.
Namun Dia tak pernah lupa.
Jangan pernah berhenti berharap.
Karena sejatinya, Allah tak pernah alfa mendengar setiap bait doa yang kita
titipkan bahkan yang kita ucapkan dalam diam.
Di titik inilah iman kita diuji lagi:
tentang keyakinan atas harap yang selama ini kita minta.
Sebab jika satu saja doa dikabulkan,
seharusnya itu sudah cukup menjadi bukti
betapa dekat dan perhatiannya Allah pada diri kita.
Di malam itu aku mengerti:
ada doa yang tak perlu berteriak agar sampai.
Ia menembus langit dalam sewaktu tenang, utuh, dan penuh keyakinan.
Komentar
Posting Komentar