Titanic vs Kapal Nuh
Tentang niat, kesombongan, dan bahtera yang benar-benar menyelamatkan
Di sisi lain, jauh sebelum itu, Allah mengutus seorang nabi mulia Nabi Nuh ‘alaihis salam yang berdakwah selama ratusan tahun, menyeru manusia agar kembali menyembah Allah semata. Seruan yang membawa keselamatan dunia dan akhirat itu justru hanya diikuti oleh segelintir orang. Hingga akhirnya Allah memerintahkan beliau membangun sebuah kapal bukan dengan kemewahan, bukan pula dengan teknologi mutakhir melainkan dengan ketaatan dan keikhlasan. Kapal sederhana itu justru mampu bertahan melewati banjir bandang paling dahsyat dalam sejarah manusia.
Puisi: Titanic vs Kapal Nuh
Selamat datang di birunya samudra
yang menyimpan kisah tak pernah membisu
dari palung terdalam
hingga hamparan laut yang teduh
Aku menyelami jejak waktu
tentang dua kapal yang pernah beradu
pada satu pelajaran yang sama
namun berakhir jauh berbeda arah tuju
Inilah Titanic, berkilau dan megah
dipuja kemewahan yang memukau mata
manusia terlena, tak merasa gelisah
akan batas kuasa yang tak terjangkau nalar semata
Ketika dingin merasuk tubuh
gunung es menyapa di malam biru
langkah seribu tak lagi utuh
teriakan menggema, namun bukan pada Tuhan Yang Satu
Kini kisahnya tinggal masa lalu
hanyut bersama angin lalu
sebab bahtera yang dibangun dengan keangkuhan
tak pernah benar-benar tahu arah berteduh
Di belahan waktu yang lebih lampau
seorang nabi menyeru dengan tutur syahdu
mengajak manusia kembali bertauhid
namun ditolak hati-hati yang membatu
Ratusan tahun ia berseru
namun hanya sedikit yang mau tahu
bersama mereka, ia bersatu membangun bahtera
atas perintah agung dari Tuhan Yang Satu
Saat hujan turun melanda
langit membuka kabar yang dulu didustakan
banjir menelan angkuh manusia
yang lupa nikmat beribu-ribu dari Tuhan-nya.
Inilah hikmah dua kapal masyhur
bagi hati yang ingin benar-benar tau
bahwa keselamatan bukan pada rupa dan gemerlap
melainkan pada niat yang lurus dan lapang.
Semoga bahtera dalam dada
dibangun atas iman, bukan kesombongan semata
agar akhir perjalanan hidup kita
berlabuh pada ridha Dzat Yang Maha Esa
Penutup
Bahkan kadang kita sibuk memperindah kapal, namun lupa memastikan ke mana ia berlayar. Semoga Allah membenahi niat kita sebelum menilai hasil perjalanan.
Komentar
Posting Komentar