Menulis di Tengah Ragu, Tetapkah Ia Bernilai?
Ada hari-hari ketika ragu membuatku diam di depan halaman kosong.Bukan karena tak ada kata, melainkan karena aku bertanya: apakah tulisanku benar-benar bernilai?
Ada hari-hari ketika aku menatap halaman kosong terlalu lama.
Bukan karena tak ada kata,
tetapi karena ragu.
Ragu apakah aku pantas menulis.
Ragu apakah tulisanku cukup baik.
Ragu apakah akan ada yang membaca, apalagi merasakan maknanya.
Kadang aku bertanya dalam hati,
“Jika tulisanku biasa saja, apakah ia masih bernilai?”
Ragu yang Diam-diam Menguji Niat
Ragu itu sering datang bersama pertanyaan yang lebih dalam: tentang niat.
Aku takut menulis bukan lagi karena ingin berbagi kebaikan,
tetapi karena ingin dilihat, diakui, atau dipuji.
Di titik ini, aku belajar berhenti sejenak.
Bukan untuk berhenti menulis,
melainkan untuk menata kembali hati.
Aku teringat pesan Imam Malik yang sederhana namun menenangkan:
“Ilmu itu bukan banyaknya riwayat, tetapi cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.”
Kalimat itu membuatku sadar,
bahwa menulis bukan tentang seberapa hebat kata-kata yang kupunya,
tetapi seberapa jujur aku menghadirkan cahaya itu dalam tulisan.
Dan cahaya, sering kali lahir justru dari kegamangan.
Tentang Ilmu, Tulisan, dan Amal yang Berjalan Diam-diam
Aku juga sering mengingat para ulama yang ilmunya hidup jauh melampaui usia mereka.
Bukan karena mereka mengejar keabadian,
tetapi karena mereka menulis dengan niat menjaga kebaikan.
Imam Al-Ghazali rahimahullah pernah mengingatkan bahwa ilmu
termasuk ilmu yang dituliskan
akan bernilai sesuai dengan niat yang mengiringinya.
Bukan untuk membuat takut,
melainkan untuk mengajarkan kejujuran pada diri sendiri:
bahwa niat tak harus sempurna di awal,
ia bisa diluruskan sambil berjalan.
Menulis, pada akhirnya, adalah proses membersamai niat
bukan menunggunya benar-benar bersih baru berani melangkah.
Jika Tulisan Ini Kecil, Apakah Ia Masih Bermakna?
Pertanyaan itu sering kembali.
Namun aku menemukan jawabannya dalam satu pesan yang sangat menyentuh dari Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam:
“Sampaikan darimu walau satu ayat.”
Bukan tentang banyaknya ilmu,
melainkan keberanian untuk menyampaikan kebaikan yang kita pahami,
dengan penuh tanggung jawab dan rendah hati.
Tulisan mungkin tak mengubah dunia,
tetapi ia bisa menemani satu hati di waktu yang tepat.
Dan mungkin, itu sudah cukup.
Penutup Refleksi
Maka aku memilih tetap menulis.
Di tengah ragu, dengan niat yang terus kupeluk dan luruskan.
Bukan karena aku merasa paling tahu,
tetapi karena aku ingin ikut menjaga denyut kebaikan tetap hidup
meski hanya lewat kata-kata sederhana.
Barangkali menulis bukan tentang seberapa banyak yang membaca,
melainkan seberapa jujur kita menjaga niat saat menorehkan kata.
Dan selama ragu masih mengantarkan kita pada doa, menulis tetap layak dilanjutkan.
Jika suatu hari tulisanku dibaca ketika aku sudah tak lagi hadir,
biarlah ia menjadi saksi
bahwa aku pernah berusaha menulis dengan jujur,
dan berharap Allah menerima niat baik di baliknya.
Puisi ini tidak menjawab semua ragu.
Namun ia mengingatkanku bahwa menulis bukan tentang keyakinan yang selalu ada setiap saat,
melainkan keberanian untuk tetap menyebut nama-Nya di setiap proses, apalagi saat memulai.
Komentar
Posting Komentar