Di Penghujung Hari: Puisi Islami tentang Waktu, Amanah, dan Istiqamah

 Di Penghujung Hari

Puisi Islami tentang waktu, amanah, dan keheningan hati

Ada saat ketika langkah terasa jauh, tetapi hati tetap ingin kembali. Di antara hiruk pikuk hidup, kita sering lupa bahwa waktu bergerak tanpa menunggu siapa pun. Ada amanah yang menanti, ada syukur yang perlu dirasakan, dan ada iman yang terus ingin dijaga. Puisi ini lahir dari keheningan itu dari sudut hati yang mengingatkan diri bahwa hidup tidak selamanya panjang, tetapi selalu cukup jika kita kembali kepada-Nya.

Semoga setiap baitnya menjadi pelukan lembut di penghujung hari,
yang menuntunmu kembali pada makna: bahwa apa pun yang kita jalani, Allah selalu dekat.

Puisi ini kutulis sebagai pengingat, bahwa hidup berjalan cepat, amanah terus menunggu, dan Allah selalu menatap kita dengan kasih-Nya.

Semoga bait-bait ini menjadi jeda yang menenangkan jiwamu hari ini.

 

                             

DI PENGHUJUNG HARI

Waktu melangkah tanpa jejak yang pasti,
kita berjalan menyusuri hari yang tak berhenti.
Menyambut esok yang ingin kembali berseri,
meski mendung kerap turun perlahan,
mengabarkan sendu yang diam-diam menetap di dada.

Kadang, hati merana di balik asa,
ada kehampaan yang tak dapat disentuh kata.
Kematian datang silih berganti mengingatkan kita,
bahwa amanah dan pertanggungjawaban
setia menunggu di ujung masa.

Namun, di sela waktu yang tak bertepi,
ada syukur yang tetap ingin kunikmati.
Keimanan yang berakar di relung hati
adalah anugerah terbesar
yang dititipkan Sang Ilahi.

Kini, kita kembali berlari
menuju asa yang pernah tertanam rapi.
Saat kau membisikkan pada diri sendiri:
“Amanah ini akan kupeluk
hingga napas terakhir pergi.”

Semoga kita istiqamah,
hingga kelak mata terpejam
di pangkuan rahmat-Nya.



Jika kamu menyukai puisi ini, kamu bisa membaca puisi-puisi islami lainnya di blog BiBiIslami.
Jazakallahu khairan sudah meluangkan waktu. Semoga setiap kata membawa kebaikan dan senyum yang baru.

by Shafa

 


Komentar