AYAH SUKAR BERKATA
Ayah
hanya bisa mengandeng raga
Pada
selaput hari tanpa rebah
Butir
keringat menjadi saksi
Perjuangan
penuh arti
Ayah mampu melewati tapal batas
Pada tubuh yang menjulang
ke atas
Tulang kokoh nan tegak
Bersusah payah dimanapun keluarga berpijak
Hari-hari
sibuk mengais rejeki
Pada
tumpukan rupiah yang bersih
Bersih
dari noda tak diridhoi
Demi
sesuap nasi yang suci
Ayah,
Sesosok manusia tanpa kata lelah
Jauh dari unsur sempurna
Namun bijaksana dalam mengambil langkah
Senyummu
tak pernah berontak
Meski
kantung mata membengkak
Perut
riuh mengoyak
Ditambah
duka nestapa kehidupan membludak
Bagaimana bisa ayah membendung duka tanpa kata ?
Tanpa sepatah kata, tanpa air mata
Akhirnya kutahu dari tatapan mata
Bahwa hati ayah mampu menampung segala rasa yang ada
ADA
GERIMIS DI MATA BUNDA
Aku terpana akan
luasnya lautan kesabaran bunda
Menampung beban perih
yang tak henti
Menabur cinta tak
pernah usai
Dan doa yang tak
pernah putus
Bunda pandai
menyembunyikan duka
Dan luka yang
menganga
Air matanya
terganti dengan senyuman
Lelahnya berganti
riang
Bunda mengasihiku
sejak kecil
Garda terdepan saat
aku diganggu
Penyemangat ketika
ku jatuh
Bundaku bangkit
bahkan saat masa-masa terpuruk
Ketika ayah tak ada
Bunda menanggung
pedihnya sendiri
Hanya rumah lusuh dan
kenangan yang masih menjelma di dinding-dindingnya
Gerimis sore itu
telah mampu menutupi air matanya
Wajah berbalut
keriput
Menandakan dirinya
tak sekuat dulu
Tapi hatinya tetap tegar
Menanggung beban
kesendirian tanpa anak di rumah
Anak yang dahulunya
dibesarkan dengan perjuangan
Kini harus merantau
di kota impian
Demi kehidupan yang
didambakan
Tinggallah dirinya menanti
hari demi hari
Entah kapan sang
anak pulang
Bunda, akulah
anakmu itu
Tak pernah tau arti
terima kasih
Bahkan menjengukmu
pun beribu alasan aku siapkan
Bunda, akulah
anakmu itu
Yang sejak kecil
kau sapih hingga aku mampu berdiri diatas kerasnya dunia perkotaan
Bunda akulah anakmu
itu
Tak pernah mengerti
arti perjuangan
Tak pernah mengerti
beban penderitaan
Tak pernah pandai
mensyukuri takdir Tuhan atas kehadiran
Bunda, kau rindu
ayah dan anakmu
Kau berpaut bahagia
bersamanya
Tapi ketika
kebersamaan itu tak terwujud
Kau hanya bisa
menyembunyikan air mata bersama gerimis di kala itu.

Komentar
Posting Komentar