PUISI MENYENTUH HATI, TENTANG CINTA AYAH DAN BUNDA

 


AYAH SUKAR BERKATA

Ayah hanya bisa mengandeng raga

Pada selaput hari tanpa rebah

Butir keringat menjadi saksi

Perjuangan penuh arti

Ayah mampu melewati tapal batas

Pada tubuh yang menjulang  ke atas

Tulang kokoh nan tegak

Bersusah payah dimanapun keluarga berpijak

Hari-hari sibuk mengais rejeki

Pada tumpukan rupiah yang bersih

Bersih dari noda tak diridhoi

Demi sesuap nasi yang suci

Ayah,

Sesosok manusia tanpa kata lelah

Jauh dari unsur sempurna

Namun bijaksana dalam mengambil langkah

Senyummu tak pernah berontak

Meski kantung mata membengkak

Perut riuh mengoyak

Ditambah duka nestapa kehidupan membludak

 

 

Bagaimana bisa ayah membendung duka tanpa kata ?

Tanpa sepatah kata, tanpa air mata

Akhirnya kutahu dari tatapan mata

Bahwa hati ayah mampu menampung segala rasa yang ada

 




ADA GERIMIS DI MATA BUNDA

 

Aku terpana akan luasnya lautan kesabaran bunda

Menampung beban perih yang tak henti

Menabur cinta tak pernah usai

Dan doa yang tak pernah putus

 

Bunda pandai menyembunyikan duka

Dan luka yang menganga

Air matanya terganti dengan senyuman

Lelahnya berganti riang

 

Bunda mengasihiku sejak kecil

Garda terdepan saat aku diganggu

Penyemangat ketika ku jatuh

Bundaku bangkit bahkan saat masa-masa terpuruk

 

Ketika ayah tak ada

Bunda menanggung pedihnya sendiri

Hanya rumah lusuh dan kenangan yang masih menjelma di dinding-dindingnya

Gerimis sore itu telah mampu menutupi air matanya

 

Wajah berbalut keriput

Menandakan dirinya tak sekuat dulu

Tapi hatinya tetap tegar

Menanggung beban kesendirian tanpa anak di rumah

 

Anak yang dahulunya dibesarkan dengan perjuangan

Kini harus merantau di kota impian

Demi kehidupan yang didambakan

Tinggallah dirinya menanti hari demi hari

Entah kapan sang anak pulang

 

Bunda, akulah anakmu itu

Tak pernah tau arti terima kasih

Bahkan menjengukmu pun beribu alasan aku siapkan

 

Bunda, akulah anakmu itu

Yang sejak kecil kau sapih hingga aku mampu berdiri diatas kerasnya dunia perkotaan

 

Bunda akulah anakmu itu

Tak pernah mengerti arti perjuangan

Tak pernah mengerti beban penderitaan

Tak pernah pandai mensyukuri takdir Tuhan atas kehadiran

 

Bunda, kau rindu ayah dan anakmu

Kau berpaut bahagia bersamanya

Tapi ketika kebersamaan itu tak terwujud

Kau hanya bisa menyembunyikan air mata bersama gerimis di kala itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar